Selasa, 01 November 2011

BUDI DAYA KERAPU

BUDI DAYA BIBIT KERAPU DI PANTAI TIMUR ACEH

selasa,  01 november 2011


Pendahuluan

Budi daya Bibit Kerapu Macan dalam Tambak di Pantai Timur Aceh sekarang sedang marak di lakukan, hal ini merupakan alternative usaha dari konversi lahan tambak udang. Budidaya dilakukan dengan cara pendederan benih yang berukuran 1 inci , dimana bibit ukuran satu inci ini didatangkan dari Bali, di pelihara di dalam tambak sampai ukuran 3 inci dan kemudian dikirim ke Medan kepada para exportir, selanjutnya exportir melakukan pengiriman ke luar negeri dengan Negara tujuan nya antara lain Malaysia, Singapura, dan Vietnam. Usaha Budi daya kerapu ini sebenarnya cukup menguntungkan akan tetapi banyak kendala yang ditemui dilapangan. Dalam hal ini penulis mengajak para pembaca untuk dapat memberikan masukan dan informasi yang dapat membantu para petani tambak untuk dapat meningkatkan penghasilanmereka.
Tehknis dan Operasional
Selama ini tehknis yang dilakukan untuk pemeliharan bibit kerapu dilakukan di tambak dengan menggunakan kerambah tancap yang berukuran 2 meter x 5 meter, satu kerambah di isi 1000 ekor bibit kerapu ukuran 1 inci, dengan masa pemeliharan 30 – 40 hari, maximum satu orang petani mendapat jatah 4000 ekor dari pengumpul. Setiap 1 minggu dilakukan peyortiran untuk melihat perkembangan pertumbuhan dari bibit. Karena sifat kerapu adalah kanibal maka diperlukan seleksi ukuran, yang besar dan yang kecil di pisah. Pemberian Pakan dilakukan 2 kali per hari pagi dn sore. Pakan yang diberikan adalah daging ikan cincang, ikan – ikan kecil dan udang kecepai (tergantung kepada daerah pemeliharaannya). Panen dilakukan pada saat ukuran mencapai 3 inci.
Pembiayaan operasional biasanya ditanggung oleh petani, pengumpul dan pengusaha exportir. Dengan rincian Pembelian bibit dan transport dari Medan ke Aceh ditanggung bersama oleh Pengumpul dan Exportir. Sedangkan biaya Pakan dan Operasional Lapangan di bebankan kepada Petani. Pembagian hasil dilakukan antara Petani dan Pengumpul dengan rasio 50% : 50% setelah dipotong Biaya Bibit dan Operasional. Sedangkan Pengumpul menjual hasil ke Exportir dengan harga yang telah ditentukan sebelumnya. Dari sini pengumpul biasanya mendapat keuntungan lagi.

Faktor Resiko Kegagalan

Faktor resiko terjadi pada semua elemen yang terlibat dalam budidaya, dimana biasanya terjadi kegagalan pada pemeliharaan, dimana bibit terserang penyakit dan faktor alam, biasanya terjadi banjir dan curah hujan yang tinggi. Kalau terjadi hal seperti ini kerugian dilami semua pihak yang terlibat baik petani, pengumpul dan exportir.


Permasalahan

Permasalahan di budidaya bibit kerapu hampir sama dengan bisnis – bisnis berbasis UKM apapun yaitu Modal Kerja. Tapi ada permasalah lain yang sangat signifikan di dalam bisnis ini yaitu kurangnya tehnologi dari petani dalam budidaya, dimana budidaya sepertinya dilakukan secara sangat tradisional sehingga produk yang di hasilkan bermutu rendah serta Survival Rate nya sangat rendah, dengan begitu hal yang terjadi adalah keuntungan yang tidak maximal dari petani. Selain itu tidak adanya program- program dari pemerintah yang dapat mendukung budidaya. Keterbatasan Modal Pengumpul dan Exportir sendiri juga bisa menjadi kendala. Satu hal lagi masih tergantungnya pembelian bibit dari Bali dengan Cost yang cukup tinggi dan Perjalanan pengiriman yang ckup jauh sehingga berpengaruh terhadap daya tahan Bibit.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin