Selasa, 01 November 2011

PDF Cetak Surel


TEKNIK BUDIDAYA JAGUNG KOMPOSIT

Di negara berkembang seperti Indonesia penggunaan jagung benih unggul masih didominasi oleh varietas bersari bebas atau jagung komposit. Beberapa alas- an penting kenapa jagung komposit ditanam di beberapa lingkungan tumbuh, :  mudah dan sederhana dikembangkan, benih dapat secara cepat diperbanyak oleh petani atau kelompok tani sehingga memungkinkan menyebar, mengurangi ketergantungan petani kepada pihak lain karena dapat menyimpan benih sendiri, biaya produksi lebih murah.
Selain itu, ada beberapa alasan kenapa sebagian besar petani masih menggunakan jagung komposit varietas unggul, antara lain : daya adaptasi yang luas, dapat dikembangkan pada lahan marginal maupun lahan subur, harga benih relatif murah, benih dapat digunakan beberapa generasi tanpa mengalami degenerasi(kemunduran hasil), umur genjah dan daya hasil cukup tinggi.

TEKNIK BUDIDAYA
1.       Penyiapan lahan
  • Pengolahan tanah dilakukan sekali hingga 2 kali (tergantung kondisi tanah), untuk tanah bekas sawah tidak perlu dilakukan pengolahan tanah.
  • Jika curah hujan masih cukup tinggi perlu dibuat saluran drainase setiap 3 m, sedalam 20-25 cm, sepanjang petakan.
2.       Penggunaan benih unggul
  • Varietas unggul jagung komposit antara lain : Bisma, Lamuru, Palakka, Kresna, Sukmaraga, Srikandi putih, Srikandi kuning.
  • Benih bermutu merupakan syarat terpenting dalam budidaya tanaman jagung . Benih sehat dan memiliki daya tumbuh minimal 90 %.
  • Kebutuhan benih antara 20-25 kg/ha, tergantung jarak tanam.
3.       Penanaman
  • Populasi tanaman jagung yang optimal antara 62.500-100.000 tanaman/ha. Jarak tanam yang optimal antara 80 cm x 40 cm; 75 cm x 50 cm; dan 80 cm x 25 cm, masing-masing dengan 2 (dua) tanaman per lubang.
  • Campurkan benih jagung sebelum tanam dengan Redomil/Saromil dosis 100 gr/kg benih.
4.       Pemupukan
  • Pupuk kandang dengan dosis antara 5 – 15 ton/ha.
  • Saat tanam pupuk Urea 50-75 kg/ha + SP36 75-100 kg/ha+ KCl 50-75 kg/ha.
  • Umur 30-40 hari setelah tanam diberikan pupuk Urea 100-150 kg/ha.
  • Pemupukan diberikan secara ditugal pada setiap tanaman jarak 3-5 cm dari tanaman kemudian ditutup dengan tanah.
5.       Pemeliharaan
Pemeliharaan meliputi kegiatan : penyiangan, pembumbunan dan pengaturan drainase.
  • Penyiangan fase pertumbuhan awal sangat baik dilakukan agar tidak terjadi persaingan dalam pemanfaatan unsur hara dengan tanaman pengganggu (gulma).
  • Penyiangan dilakukan satu atau dua kali selama periode tumbuh tanaman tergantung pertumbuhan gulma. Penyiangan pertama  umur 10-15 hari setelah tanam.
  • Pembumbunan tanaman jagung dilakukan pada saat tanaman umur 4 – 5 minggu.
  • Kegiatan pembumbunan tanaman dapat memperbaikan drainase pada lahan pertanaman.
6.       Pengendalian hama
Serangan hama merupakan salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam peningkatan produksi jagung. Hama yang menyerang di pertanaman antara lain :
  • Lalat bibit (Atherigona sp.) dan ulat tanah (Agrotis sp.), merusak tanaman muda, terutama pada musim hujan dapat mengakibatkan tanaman mati. Pengendalian dapat dilakukan dengan pergiliran tanaman, tanam serempak. Pengendalian dengan insektisida yang mengandung khlorpirifos dan karbofuran.
  • Penggerek batang (Ostrinia Furnacalis), merusak daun, batang, bunga jantan dan juga tongkol saat tanaman umur  1 bulan. Pengendalian dengan menggunakan Furadan 3 G diberikan melalui pucuk sebelum berbunga (40 hari) dan diikuti Decis 25 EC.
  • Penggerek tongkol (Helicoverpa sp.), menyerang bagian reproduksi tanaman termasuk kuncup bunga dan buah, biasanya pada ujung tongkol dan merusak sebagian biji jagung dalam tongkol. Pengendalian dilakukan setelah terbentuk jambul jagung dengan Decis 25 EC setiap 1-2 hari sekali sehingga biayanya mahal.
  • Pemanfaatan musuh alami dengan cara menghindari tindakan-tindakan yang dapat merugikan perkembangan musuh alami.
  • Pengendalian fisik dan mekanik antara lain dilakukan dengan mengambil kelompok telur dan membunuh larva hama atau imagonya atau mengambil tanaman yang sakit.
7.     Pengendalian penyakit
Suatu penyakit merupakan hasil interaksi 3(tiga) komponen utama yaitu: pathogen, inang dan lingkungan (PIL). Usaha-usaha pengendalian untuk mengatasi masalah penyakit pada dasarnya adalah cara-cara memanfaatkan PIL tersebut untuk memperkecil akibat yang ditimbulkannya sehingga mencapai suatu titik di bawah ambang ekonomi dengan kerugian yang dapat diabaikan.
  • Bulai (Downy mildew), penyakit yang paling berbahaya dapat menurunkan hasil sampai 100 %. Penyebaran penyakit melalui angin yang membawa konidia dari sumber inokulum ke tanaman di sekitarnya. Pengendalian tidak menggunakan benih dari tanaman sakit, tanam serempak, penggunaan varietas tahan dan eradikasi.  Seedtreatment pada benih sebelum ditanam dengan Ridomil/Saromil dengan dosis 100 gr/kg benih dapat menekan serangan bulai.
  • Hawar daun (Helminthosporium turcicum), timbul bercak-bercak pada daun bawah tua kemudian menuju daun-daun muda, pada infeksi berat tanaman mati. Kerugian dapat mencapai 70 %. Pengendalian gunakan fungisida sistemik, terutama sejak bunga jantan muncul dengan interval 7-10 hari.
  • Virus Mosaik, saat ini ada 3 (tiga) macam, yaitu : Virus Mosaik Tebu, Virus Mosaik Ketimun, dan Virus Mosaik Kerdil Jagung (VMKJ). Tanaman jagung rentan VMKJ sampai umur 5 minggu dan semakin tua akan lebih tahan. Dapat menular melalui biji dan tepung sari. Belum ada varietas jagung yang tahan terhadap VMKJ. Pengendalian dilakukan dengan penyiangan, sanitasi, dengan insektisida efektif seperti Monokrofos, Tamaron atau Thiodan.
7.       Panen dan pasca panen
  • Panen dilakukan saat setelah benih mencapai masak fisiologis, karena pada saat itu kadar air benih jagung masih cukup tinggi, yaitu sekitar 35-40 % maka segera dilakukan penjemuran.
  • Penundaan waktu panen adalah sampai benih mencapai masak panen asalkan keadaan lapang cukup menguntungkan (tidak ada hujan). Penundaan dimaksud untuk menurunkan kadar air benih sampai 25-30 %, sehingga biaya pengeringan dan kerusakan mekanis yang terjadi saat panen dapat ditekan.
  • Tongkol jagung dipanen manual, segera kulit dikupas dan dijemur sampai kadar air 10-14 %, kemudian dipipil, pemipilan pada saat kadar air masih tinggi akan merusak kualitas biji jagung.
  • Jagung pipilan kemudian dijemur lagi hingga kadar air < 9 %  apabila akan disimpan.

VARIETAS UNGGUL
  • KRESNA, Umur 90 hari; tinggi tanaman 185 cm; warna biji kuning; bentuk biji mutiara; bobot 1.000 biji 270 gr; potensi hasil 7,0 t/ha; cukup tahan terhadap  bulai.
  • BISMA, Umur 96 hari; tinggi tanaman 230 cm; warna biji kuning; bentuk biji semi mutiara; bobot 1.000 biji 307 gr; potensi hasil 7,5 t/ha; tahan karat dan bercak daun.
  • LAMURU, Umur 95 hari; tinggi tanaman 190 cm; warna biji kuning; bentuk biji mutiara; bobot 1.000 biji 275 gr; potensi hasil 7-8 t/ha; cukup tahan bulai dan karat.
  • PALAKKA, Umur 95-100 hari; tinggi tanaman 160-200 cm; warna biji kuning; bentuk biji mutiara; bobot 1.000 biji 275 gr; potensi hasil 8,0 t/ha; tahan penyakit bulai.
  • SUKMARAGA, Umur 105-110 hari; tinggi tanaman 180-220 cm; warna biji kuning tua; bentuk biji semi mutiara; bobot 1.000 biji 240-280 gr; potensi hasil 8,5 t/ha; tahan penyakit bulai dan karat daun. [agricenter.jogjaprov.go.id]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin